Sabtu, 08 Oktober 2011

Pertemuan Pertama dan Terakhir



Aku memegang nisannya, ketika semua orang meninggalkan pemakaman. Randy, aku belum lama mengaguminya, ketika aku dan salah seorang temanku bernama Charla mengunjungi salah satu taman favoritku dan Charla. Sebelum bercerita jauh tentang Randy, perkenalkan namaku Tiara Angelina. Kalian bisa panggil aq Tiara. Aku baru duduk di kelas XII jurusan IPA di salah satu SMA di Jakarta. Aku telah lama bersahabat dengan Charla, yah mungkin aku dari lahir telah bersamanya, hehe. Kisah ini berawal ketika aku mengunjungi taman di salah satu sudut kota Jakarta.
Pagi ini matahari telah membuka selimut malam untuk berganti pagi. Tepat di hari Minggu, aku telah membuat janji jogging dengan Charla. Kami memang selalu jogging setiap minggunya. Aku dan Charla telah bertemu sekitar pukul 07.00, aku membawa sekotak bekal kecil untuk sarapan nanti. Awalnya joggingku berjalan lancar, tapi ketika aku melewati sebuah jalan tikungan dekat taman aku terserempet sepeda motor hingga aku jatuh tertelungkup. Aku berusaha berdiri ketika Charla berteriak dan menolongku. Aku mencoba berdiri namun aku terlalu lemah, ya walaupun aku tak pingsan tapi sakit sekali rasanya kaki kananku. Pengendara sepeda motor itu turun, kemudian mendekatiku dan Charla. Charla sudah berteriak-teriak memaki-maki sang pengendara motor. Sementara aku duduk di dekat kolam kecil disamping mereka. Aku masih memegang kakiku yang sakit. Lukanya memang agak parah, karena memang aku tak mengenakan celana panjang. Hanya celana sampai lutut yang aku kenakan saat itu, hingga darah mengalir di lutut dan mata kakiku. Aku menahan rasa perih dan sakit kakiku.
Aku masih mendengar Charla memaki-maki, dan berhenti ketika aku memanggil Charla. Aku tak melihat mereka bertengkar karena aku menunduk untuk menahan rasa sakit. Charla sangat khawatir sekali, aku melihat pengendara motor itu, mendekati kami berdua. Dia duduk dekat kakiku dan memegangnya. Tangannya dingin sekali, sungguh benar-benar dingin. Apa mungkin karena menggunakan sepeda motor? Tapi aku melihat jam tanganku sudah menunjukkan hampir pukul 8 dan udaranya juga panas.  Dia memegang dengan lembut kaki kananku. Aku tak bisa melihat wajahnya karena dia tak menolehke arahku. Namun aku tak mempermasalahkan itu semua. Yang kurasa saat itu hanyalah sakit dan sakit. Aku sungguh terkejut ketika dia mengangkatku tapi aku tak sempat melihat mukanya, aku langsung tak sadarkan diri.
Mataku terbuka ketika aku melihat langit-langit. Perlahan aku memperjelas pandanganku. Aku melihat Charla harap-harap cemas menanti kesadaranku. Dia telah memberitahu keadaanku pada mama dan papa di Jepang. Hingga mama dan papaku langsung menghubungiku via web-cam. Aku menenangkan mereka dan mengatakan aku baik-baik saja. Hingga akhirnya mereka percaya bahwa aku tak apa-apa. Aku memberi saran pada Charla agar tak mengatakan hal-hal yang membuat mereka khawatir denganku. Aku melihat seseorang mengamatiku di dekat pintu. Aku menanyakan pada Charla siapa orang yang berdiri di dekat pintu. Charla terlupa pada seseorang yang telah menyerempetku dan menolongku. Suara kecil Charla mempersilahkan dia masuk ke ruang rawatku.
Dia seperti seorang mahasiswa, ia terlihat keren, rapi dan bergaya ala mahasiswa umumnya. Ia mengawali pembicaraan dengan lembut. Aku suka gaya bicaranya, sopan dan tak kasar. Dia meminta maaf atas kesalahannya. Charla yang dari tadi menatap lelaki itu segera menanyakan namanya. Randy ya namanya Randy Adiwinata. Ia tergesa-gesa mengendarai sepeda motor karena, hari ini dia ada kelas, dan kebetulan ada test sastra inggris di universitasnya. Benarkan, dia memang mahasiswa jawabku dalam hati. Ia meminta nomor hpku untuk memastikan bahwa dia akan bertanggungjawab penuh akan kesalahannya. Dan ia segera pamit untuk pergi. Aku mempersilahkan Randy dengan senyum kecil di bibirku dan ia membalas dengan senyum juga. Charla berdehem keras ketika Randy sudah tak terlihat di kamarku.
Esoknya aku sudah diperbolehkan pulang, namun harus izin selama seminggu untuk istirahat sekolah. Di depan ruangan ternyata sudah ada Randy yang menungguku untuk pulang. Aku masih mengenakan kursi roda saat pulang. Charla yang mendorongku menyerahkannya pada Randy, aku mengeluh kecil pada Charla karena ia bisa merepotkan Randy. Namun Charla harus segera berangkat sekolah dan aku harus ketinggalan pelajaran selama seminggu. Aku meminta Charla untuk mencatatkan semua mata pelajaran. Ya, namun harus ada imbalan juga. Aku harus mengerjakan setiap PR yang ia punya. Tak apalah yang penting aku tak ketinggalan catatan. Randy mengantar aku pulang ke rumah.
Bibi sudah berdiri di depan rumah menanti kedatanganku. Randy mendorong kursiku hingga aku masuk kamar. Ternyata ia sama denganku, orang tuanya juga berada di luar negeri. Ia juga bercerita banyak tentang dirinya. Karena ia anak tunggal maka ia kesepian di rumahnya. Aku sengaja menyinggung tentang siapa kekasihnya, namun ia malah mengalihkan pembicaraan. Aku mengerti bahwa ada sesuatu tentang kehidupan cintanya. Hari berganti hari aku semakin kagum dengan Randy, banyak hal yang tak bisa untuk aku jelaskan mengapa aku merasakan hal itu. Pendapat Charla, ini adalah awal dari rasa, yaitu cinta. Namun aku merasakan hal yang beda antara cinta dan kekaguman. Ya, seperti yang aku lihat Randy tak bersikap seperti aku. Setiap kali aku mencoba menepis rasaku ini, aku takut Randy telah memiliki seorang kekasih.
Ini sudah hari ke-3 aku belum masuk sekolah. Hari aku mencoba mengenakan tongkat, mungkin karena baru pertama kalinya aku mencoba dan aku tak kuat rasa sakit kakiku, aku terjatuh di lantai dan gips di kakiku berwarna merah. Ya, darah mengalir cukup deras. Aku mendengar suara orang menaiki tangga, aku berharap bibi tau kalau aku terjatuh. Ternyata bukan bibi, Randy datang di saat yang tepat Dia terkejut ketika melihat kondisiku. Dan ia segera menelefon dokter. Setelah selesai diganti perban, aku merasa selalu merepotkan Randy. Randy sangat baik padaku, namun aku belum bisa membalasnya. Hingga suatu waktu ia bercerita tentang kekasihnya. Dan ternyata kekasihnya sudah meninggal, ia terserempat mobil. Namun mobil tersebut melarikan diri.  Mungkin ini jawaban mengapa ia perhatian dengan aku. Ia takut kejadian itu terulang kepada seseorang, termasuk aku.
Hari ke-6 Randy datang kerumahku. Ia terlihat tak bersemangat. Aku memberanikan diri untuk bertanya padanya. Ia tak mau menjawab, namun wajahnya terlihat pucat dan lemas. Takut terjadi sesuatu padanya aku segera mengambil telefon di meja kamarku. Namun Randy segera merebutnya dari tanganku dan mengembalikan ke meja. Aku menatap Randy yang masih di depanku. Ia mangatakan bahwa ia tak apa-apa. Aku masih yakin Randy menyimpan sesuatu hal yang besar. Saat itu ia memberika aku sebuah kado. Aku membuka di depannya. Sebuah miniatur taman kota lengkap dengan hiasan”nya. Aku memeluknya, menyatakan terima kasih atas pemberiannya dan perawatannya selama ini. Ia membalas pelukanku dengan lembut, aku merasa tubuh Randy agak dingin dan wajahnya terlihat pucat. Namun ia berpamitan denganku untuk pulang.
Charla yang baru datang, malah tak sempat berbincang-bincang dengannya, ia malah terus-terusan meledekku. Aku menunjukkan miniatur itu pada Charla. Ia benar-benar tersanjung dengan miniatur tersebut. Bahkan memaksaku untuk bilang pada Randy agar dicarikan lagi. Aku mengatakan pada Charla untuk mencari sendiri. Paginya, saat hari minggu pukul 07.00 seseorang mengetuk pintu ruang tamu. Aku sudah bisa berjalan walau agak pelan. Aku membukannya, terkejut dalam hatiku, Randy pagi-pagi datang kerumahku. Ia mengenakan pakaian putih yang benar-benar rapi dan perfect menurutku. Ia tampan sekali. Randy menanyakan keadaanku dan memeriksa kakiku yang sakit. Tapi aneh tangannya dingin sekali. Lebih dingin dari saat aku pertama bertemu dengannya. Ia memegangnya dan rasanya kakiku tak terasa sakit lagi, benar-benar ajaib. Namun, Ia berpamitan dan memberiku sebuah amplop putih dan memelukku dengan erat sebelum pulang. Ia berpamitan seolah-olah akan pergi jauh. Ia melarangku membuka amplop sebelum ia pergi.
Aku membuka dan membacanya di depan pintu ketika ia sudah tak terlihat lagi. Isi surat itu adalah :
Untuk Tiara tercinta,,,,
Hai ra, kamu sudah sembuh? Semoga lekas sembuh sebelum aku pergi ya. Sebelumny aku minta maaf, mungkin kurang sopan jika harus berpamitan lewat surat ini.
Aku merasa ada pengganti Riana ketika kamu bertemu denganku. Ya, kekasihku yang telah tersenyum di surga. Mungkin ini hanya perasaanku atau apalah, aku merasa kamu juga merasakan apa yang aku rasakan. Betul katamu, ini bukan hanya rasa yang berawal dari kekaguman. Karena selama ini memang semua keindahan yang aku rasakan baru aku temukan setelah kejadian di taman awal kita bertemu. Mungkin Allah menunjukkan padaku pertemuan sebelum aku pergi.
Aku menyayangimu seperti aku menyayangi Riana, aku merawatmu seperti merawat kembali Riana. Namun aku mengerti bahwa dia sudah tak ada. Aku mengerti bahwa ini adalah kamu, Tiara.Tiara, Kamu tahu, aku punya penyakit leukemia??? Mungkin kamu memang sudah merasa saat kita bertemu di taman. Aku ingin menemui Riana di sana, dan aku harap suatu saat nanti, setelah takdir itu menjemputmu kamu akan menemuiku di sana juga. Tiara, kata terakhirku “ aku sayang padamu “
Dengan penuh cinta
Randy

Betapa hancur semua rasa dalam hatiku membaca surat itu. hampir tak sadarkan diri ketika Charla menghampiriku. Aku menangis sepuasku dan Charla segera merebut kertas itu. Charla menenangkanku dan mengantarku menuju pemakaman. Aku melihat berkerumun orang disana. Dan aku yakin itu adalah nisan Randy. Aku menanyakan pada orang-orang disitu, kapan Randy meninggal. Dan ternyata pagi itu, sekitar jam 6. Aku tersimpuh di nisan Randy, menyesali mengapa aku tak mengatakan kalau aku mencintai dia. Namun aku berharap ia akan melihatku mengenangnya dari atas sana. “ selamat jalan Randy, Riana telah menunggumu “ kata terakhirku di pemakaman Randy dengan rasa ikhlas merelakannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar